LEBARAN = lebar, Lebur, lebar, Luber, labur … libur …

Ada banyak cara untuk merayakan Idul Fitri, ada banyak makna yang terkandung dalam hari raya umat Islam.  Bagi masyarakat Jawa, kata lebaran berasal dri kata “lebar” berarti usai, yakni masyarakat kaum muslim baru saja usai menunaikan ibadah puasa di Bulan Ramadhan, menahan nafsu makan, minum syahwat juga sudah usai meski tetap harus mengendalikan diri.  Kemudian mereka merayakan dengan saling memafkan saling melebur dosa, sehinggga Idul Fitri juga bermakna sebagai LEBUR, di hari nan fitri banyak kegiatan untuk saling memafkan, saling lebur dosa dan kesalahan/kekhilafan, yang telah mereka lakukan, saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan, sehingga seolah sudah saling melebur dosa.  Dengan demikian, hati kaum muslimin juga menjadi lapang, hati menjadi LEBAR, saling mengakui kesalahan, mengakui kekhilafan yang telah dilakukan.  Hanya orang-orang yang mengakui kesalahan yang memiliki keLEBARan hati nurani.

Idul Fitri juga dirayakan dengan hidangan aneka makanan yang boleh dikatakan melimpah ruah, dengan kata lain LUBER di mana-mana, mulai dari makanan yang murah sampai makanan yang mewah, aneka roti  camilan, aneka roti basah, kering atau bahkan makanan tradisional serta aneka kuliner yang melimpah ruah, makanan jamuan yang merupakan wujud perasaan senang akan kedatangan banyak tamu.  Di beberapa kampung memiliki kebiasaan setiap rumah menyediakan makan besar, bukan hanya camilan atau makan kecil, ada pula tradisi menyulut mercon kembang api yang semua itu adalah wujud dari luapan kegembiaraan di hari kemenangan.

Pun jalanan padat merayap dilalui oleh para pemudik yang akan merayakan Lebaran di kampung halaman, unjuk keberhasilan dengan baju baru, mobil baru, kendaraan baru, bagi-bagi duit dan makanan kepada sanak saudara untuk menunjukkan bahwa ketika di perantauan mereka adalah orang-orang sukses, tak peduli harus ngutang atau nabung tiap bulan, tak peduli  apakah itu mobil pribadi atau mungkin harus sewa, yang penting bisa silaturrahmi untuk bertemu dengan keluarga, kangen-kangenan dengan teman di kampung untuk bernostalgia.  Jalan kampung yang tidak LEBARpun dilalui kendaran para pemudik dari berbagai kota besar.  Orang-orangpun menghias rumah atau  jalan guna menyambut datangnya Idul Fitri,  orang kampung sering meLABUR diding, pagar atau gapura agar kelihatan indah, edi, seolah mengucapkan Selamat Datang, Marhaban, seuntai kata penghormatan kepada tamu yang akan datang.

Idul Fitri juga waktunya untuk LIBUR, menikmati liburan bersama keluarga tercinta, kebersamaan yang selama ini tak terwujud akibat dari rutinitas kerja suntuk yang kadang tidak memberi kesempatan untuk bersama dan bercengkerama, Liburan Hari Idul Fitri benar-benar digunakan untuk berLIBUR sambil berLEBARAN, menikmati aneka keindahan kampung yang sudah diLABUR, gapura dan pagar terasa lega dan LEBAR untuk dilalui … bersama merayakan Idul Fitri.

Ada hal yang barang kali terlupakan, merayakan Idul Fitri dengan hal-hal baru dan mewah serta melimpah ruah boleh saja dilakukan, namun hakekat Idul Fitri agar kita kembali ke fitrah jangan sampai dilupakan.  Setelah sebulan lamanya digembleng untuk mengendalikan diri, digembleng dengan berbagai tausiah, maka di bulan Syawal perlu ditingkatkan ibadah, baik kuantitas maupun kualitas ibadah tersebut.  Peningkatan ibadah baik kualitas maupun kuantitas perlu kita nomorsatukan guna meraih derajat muttaqiin.

Selamat Idul Fitri, semoga kita mampu meraih derajat Muttaqiin.  Amiin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s